Senin, 10 Mei 2010

Masjid Terlalu Kecil, Jamaah Belgia Sholat Di Gereja

CHARLEROI (Berita SuaraMedia) – Selama dua minggu terakhir, para jamaah dari Masjid Gilly di Charleroi, Belgia, yang dikelola oleh asosiasi Ak-Touba, tidak memiliki tempat ibadah. Setelah meninggalkan Masjid pertama mereka, on Bois de Lobbes di Gilly, yang menjadi terlalu kecil, asosiasi itu pindah ke sebuah hangar di Ransart. Namun tempat itu ditutup untuk alasan keamanan dan kepemerintahan kota.

Mohammed, seorang jamaah di daerah itu, mengatakan bahwa pemerintah kota Charleroi memberikan mereka ruang aula di daerah Montignies-sur-Sambre, tapi solusi cepat itu hanya untuk sementara.

Dan sekarang, hingga tanggal 15 Mei nanti, Gereja Katolik Saint Lambert-lah yang menampung para jamaah Muslim.

Pendeta gereja, Henry Remy (89), mengatakan bahwa itu adalah sikap alamiah terhadap orang-orang yang beriman, dan bahwa dia akan merasa senang jika melihat banyak orang di jemaatnya seperti banyaknya jumlah jamaah Muslim.

Membuka gereja Saint Lambert untuk sholat Jumat dilakukan atas kesepakatan dengan pejabat tinggi gereja Gilly. Situasi ini sangat dihargai oleh kaum Muslim di asosiasi Ak-Touba.

Jamaah Muslim mengatakan bahwa mereka berharap pemerintah kota Charleroi akan memungkinkan mereka untuk segera kembali ke Masjid mereka di Ransart, tapi untuk sementara waktu ini, mereka sangat senang dapat melaksanakan ibadah, gereja atau Masjid, keduanya adalah tempat untuk menyembah Tuhan.

Sementara itu, pada bulan April lalu di Spanyol, bentrokan terjadi antara para wisatawan Muslim dengan petugas keamanan Katolik Roma di salah satu Masjid bersejarah dunia di Cordoba, dimana dua orang ditahan dan dua penjaga mengalami luka-luka.

Bentrokan tersebut pecah setelah para pengunjung mencoba menggelar sholat di bekas Masjid yang telah dijadikan katedral Kristen pada abad ke-13 tersebut, dimana seorang pastor lokal, Demetrio Fernandez, telah beberapa kali menghalangi kaum Muslim yang hendak beribadah di sana.

Setengah lusin anggota dari sekitar 100 Muslim asal Austria mencoba melaksanakan sholat di antara tiang-tiang bangunan, ketika para penjaga mengentikan mereka.

“Mereka mencoba memulai kekerasan lama,” tuding sang pastor dalam sebuah pernyataan.

Para penjaga tersebut lalu memerintahkan mereka untuk melanjutkan melihat-lihat isi “Masjid” seluas 24.000 meter tersebut.

“Namun nampaknya salah paham terjadi, dan bentrokan kembali tercuat. Dua orang penjaga terluka, dua orang wisatawan ditahan.”

Pertikaian mengenai peribadatan di “Masjid” Cordoba tersebut memang kerapkali terjadi karena pihak katedral selalu menghalangi kaum Muslim menggelar ibadah di sana.

Tahun lalu, Uskup Agung Seville yang baru, Juan Jose Asenjo, menolak sebuah proposal yang menyatakan bahwa kaum Muslim akan mengunjungi Masjid Cordoba untuk beribadah. Uskup berpendapat bahwa “berbicara mengenai perasaan relijius, banyak penduduk Cordoba yang akan merasa terhina dan itu akan menimbulkan masalah bagi kami, mereka, dan kota ini.”

Sekretaris serikat dagang UGT di provinsi Cordoba, Antonio Fernandez, mengusulkan bahwa kaum Muslim diperbolehkan beribadah di Masjid Cordoba.

“Itu akan menguntungkan dunia pariwisata di kawasan ini jika kaum Muslim melakukan perjalanan ke sini, yang akan berkontribusi pada kondisi ekonomi kota yang lebih baik,” ujar Antonio Fernandez.

Uskup Agung mempertanyakan dalam surat kabar Spanyol ABC, “Apa hubungannya kaum Muslim yang melakukan ibadah dengan diciptakannya lapangan kerja baru?”. Di sisi lain, ia mengatakan bahwa ia berharap dapat memiliki hubungan persaudaraan dengan saudara-saudara Muslim dan bekerjasama memperjuangkan perdamaian dan keadilan.

0 komentar:

Posting Komentar

q